Selasa, 14 Mei 2013

Perang Dunia III Sudah dekat?



Seorang pengamat hubungan internasional, Mike Portal, yakin Perang Dunia –PD-III sudah dekat. Keyakinannya itu setelah menganalisa sengketa-sengketa yang sedang terjadi dewasa ini. Rusia dan Cina mendukung pemerintahan Basar al Assad di Suriah untuk menghambat cita-cita ‘globalisasi’ Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Untuk itu Rusia mengirim 36 kapal perang dan 125 pesawat tempur. Belum ada berita apakah Cina melakukan hal sama. Sedangkan Iran yang berseteru dengan Amerika Serikat mengirim 15 ribu tentara untuk membantu rezim Assad di Suriah. Sementara itu pasukan Suriah berhadap-hadapan dengan pasukan Israel di perbatasan yang berdekatan dengan dataran tinggi Golan. Sejak perang 1967, Suriah tidak mampu membebaskan Golan dari pendudukan Israel. Di lain pihak Turki yang anggota NATO malah merapat ke Iran. Mesir yang mengobarkan perang tahun 1967, sedang berusaha membatalkan Perjanjian Camp David  yang disepakati tiga tokoh, Jimmy Carter, Anwar Sadat dan Menahem Begin. Perjanjian itu mengakibatkan Mesir mengakui keberadaan Israel sebagai sebuah negara, sedangkan Israel mengembalikan Sinai kepada Mesir. Akibat lainnya, terjadi pembunuhan terhadap Presiden Mesir Anwar Sadat yang dilakukan kelompok anti Perjanjian Camp David. Iraq yang tampaknya sudah tenang, ternyata sedang bergolak. Kelompok perlawanan yang ditaklukkan Amerika Serikat dalam perang tahun 2003 kembali bangkit untuk menggulingkan pemerintah Iraq yang sedang berkuasa. Begitu juga Afghanistan yang diduduki Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya tahun 2001, kini sedang bangkit melawan  berupa kekuatan gabungan Taliban dengan Al Qaeda. Perlawanan juga terjadi di Libya, digerakkan kelompok yang setia kepada Moammer Khadafi dan Libanon antara Israel dengan Hizbullah.
Yang menarik, alih-alih menyerang Iran, Israel malah akan menyerbu Suriah untuk melenyapkan pengaruh  Iran di kawasan itu. Serbuan juga akan dilakukan Amerika Serikat terhadap Korea Utara disebabkan pembangkangan Korea Utara terhadap sanksi-sanksi PBB. Sambil membalas serangan Amerika Serikat, Korea Utara pun menyerang Korea Selatan. Perang besar akan terjadi di Laut Kuning. Menariknya lagi, Australia akan mencaplok pulau-pulau terluar Indonesia , dijadikan pangkalan militer untuk membantu Korea Selatan melawan Korea Utara yang dibantu Cina. Ringkasnya, menurut Mike Portal PD III itu merupakan perang antara Amerika Serikat {Nasrani) + Israel (Yahudi) melawan  Iran (Islam) + Cina/Rusia (Komunis).
Analisa Mike Portal itu lebih bersifat ramalan yang diragukan kebenarannya. Misalnya, masa Indonesia mau melepas pulau-pulau terluar kepada Australia dijadikan pangkalan militer untuk membantu Korea Selatan.

Investasi dalam Islam




Acara ‘Damai Indonesiaku’ TV One pada Senin dinihari, 22 April 2013 mengangkat thema ‘Investasi Dalam Islam’. Dipandu pembawa acara David Chalik, tampil dua orang ustadz masing-masing Anwar Sanusi dan Maki. Kedua ustadz itu memaparkan panjang lebar bahwa investasi dalam Islam memiliki pengertian luas, termasuk bersedekah yang merupakan investasi untuk akhirat. Sayangnya dari kedua ustadz itu tidak ada penjelasan bagaimana seharusnya investasi dalam pengertian ilmu ekonomi menurut pandangan Islam.


Investasi adalah modal tertentu yang disertakan dalam kegiatan ekonomi, misalnya  untuk membangun sebuah pasar swalayan. Pemodal atau investor, logikanya mendapat untung. Cara-cara memperoleh keuntungan itulah yang dipertanyakan: bagaimana Islam mengaturnya?
Menjawab pertanyaan tersebut perlu dipelajari, apakah ada praktek investasi dizaman pemerintahan Islam dulu. Kalau ada tinggal ditelusuri, bagaimana mengatur keuntungan untuk pemodal. Sebaliknya kalau belum ada, bagaimana pula mengaturnya dalam keadaan sekarang.
Bank-bank Syariah yang ada sekarang menerapkan sistem bagi hasil bagi pemilik modal yang menyimpan uang baik dalam bentuk tabungan mau pun deposito. Apakah cara menghitung bagi hasil yang dipraktekkan bank-bank Syariah itu sama  dengan  bagi hasil dalam kegiatan investasi. Inilah sebetulnya yang harus dijelaskan kepada masyarakat. Yang mengetahui seluk beluk menghitung bagi hasil yang diterapkan bank-bank Syariah adalah pihak bank Syariah sendiri. Salah seorang dari tokoh perbankan Syariah, seperti Antonio Syafei, perlu dihadirkan untuk memberi penjelasan. Rumus apa yang dipakai utuk menggantikan sistem bunga yang riba itu. Juga harus dijelaskan, mengapa menyimpan uang di bank Syariah keuntungannya lebih kecil daripada bank konvensional.
Thema yang diangkat ‘Damai Indonesiaku’ TV One tentang ‘Investasi Dalam Islam’ pada Senin dinihari 22 April 2013 itu, belum terjawab. Kita ingin menganjurkan para pakar perbankan Islam lebih banyak lagi menjelaskan  seluk beluk bagi hasil  bagi pemilik modal baik yang menyimpan uagnya di bank-bank Syariah mau pun menyertakan modal dalam pelbagai proyek pembangunan.
Di pihak lain, para ustadz pun sebaiknya mempelajari sistem ekonomi Islam, termasuk perbankan Syariah yang memberlakukan sistem bagi hasil sebagai pengganti  sistem bunga yang haram itu. Sehingga ketika memberi ceramah yang ada kaitannya dengan masalah ekonomi, tidak terlalu jauh dari thema yang diangkat oleh penyelenggara.

Minggu, 12 Mei 2013

Meneer Den Uyl



Ia bernama Den Uyl, pria lansia yang tampak selalu bersemangat. Penampilannya sederhana, terlihat dari pakaian yang dikenakannya bukan merek terkenal..Ia memakai kemeja abu-abu dengan celana hitam. Menutup kemejanya itu sebuah jaket kulit, juga berwarna hitam. Tidak berdasi, berbeda dengan kebanyakan pria Belanda yang suka parlente.. Konon pria yang tidak berdasi termasuk golongan rakyat kecil, bukan dari kalangan kapitalis. Dengan pakaian yang sederhana itu Den Uyl tetap gagah dan bersemangat. Kesan itu diperoleh Sabarudin, ketika tidak sengaja berkenalan dengan Den Uyl di terminal bus Bussum. Mereka berada di satu ruangan tunggu sama menunggu bus dengan jurusan berbeda. Sabarudin menunggu bus ke Huizen. Den Uyl ke Hilversum.

“Ben U van Suriname?” sapa Den Uyl dengan ramah. Ia menyangka Sabarudin orang Suriname.

“Ne, meneer. Ik kom uit Indonesia…” jelas Sabarudin dengan ramah pula.

“O, gelukkig. We habben veel Indonesische mensen hier..” Den Uyl tampak senang. Tiba-tiba ia berdiri, menganggukkan kepala memberi hormat.

“Tabek, Tuan…” Sabarudin ikut berdiri member hormat sambil tertawa lebar.

“Maaf meneer. Itu bahasa tempo dulu. Sekarang sudah tidak terpakai lagi.” Sabarudin menjelaskan keadaan Indonesia yang terus mengalami perubahan, termasuk penggunaan bahasa. Den Uyl menyimak penuh perhatian.

“Apa bahasa Belanda masih digunakan di Indonesia?” tanya Den Uyl.

“Tidak lagi. Tetapi yang pernah sekolah Belanda, masih memakainya dalam percakapan ketika bertemu satu sama lain. Mereka sudah lansia.” Lantas Sabarudin menjelaskan penggunaan  bahasa Indonesia yang terus berkembang.

“Apa dengan keberadaan bahasa Indonesia itu, bahasa-bahasa daerah menjadi hilang?”

“Tidak. Bahasa-bahasa daerah tetap hidup. Orang akan menggunakan bahasa Indonesia ketika seorang yang baru dikenal tidak mengerti bahasa daerah setempat.”

“Kalau bahasa asing?”

“Yang banyak digunakan adalah bahasa Inggeris. Tapi bahasa-bahasa asing lainnya juga dipelajari untuk keperluan-keperluan khusus. “ Sabarudin berhenti berkata-kata ketika bus yang mereka tunggu datang beriringan. Mereka berpisah setelah bersalaman.

Tidak ada janji untuk bertemu lagi. Namun hari-hari berikutnya Den Uyl dan Sabarudin sering bertemu di terminal bus Bussum. Percakapan pun berkembang membicarakan pelbagai hal yang menarik perhatian masing-masing. Mereka saling menceritakan pekerjaan masing-masing. Den Uyl ternyata seorang buruh di sebuah pabrik pengolahan sampah. Ia mengeluh karena upah buruh di pabriknya masih terhitung rendah dibandingkan dengan pabrik-pabrik lain.

“Bukankah  gaji pekerja di Belanda termasuk baik?” tanya Sabarudin.

“Sebagian ya. Sebagian lagi tidak. Masih ada kesenjangan. Inilah yang sedang kami perjuangkan..”

“Maksud meneer?”

“Perjuangan secara politik di parlemen. Kami harus punya banyak kursi di parlemen, sehingga perjuangan buruh mendapat kemenangan.” Den Uyl berhenti bicara.  Ia menatap wajah Sabarudin.

“Dukunglah kami.” Suara Den Uyl terdengar serius. Sabarudin belum mengerti.

“Pilihlah Nederlands Communis Partij –NCP- dalam pemilu mendatang.” Sabarudin terkejut. Den Uyl ternyata seorang komunis. NCP cuma punya seorang wakil di Parlemen. Sekali pun minoritas, ia sangat yakin partainya suatu ketika akan menang. Ia juga tidak ragu-ragu mengajak orang yang baru dikenalnya ikut memilih NCP. Sabarudin menggeleng-geleng.

“Tidak mungkin meneer. Saya bukan warganegara Belanda…”

“Ambil saja kewarganegaraan Belanda.” Suaranya terdengar enteng. Ia tidak tahu apa yang terlintas dalam fikiran Sabarudin. Tampaknya ia yakin betul perjuangan buruh pantas didukung oleh semua orang, Belanda atau bukan. Sabarudin terdiam sambil memikirkan apa yang harus diucapkannya.

“Kalau cuma menjadi warganegara Belanda, tidaklah sulit,” kata Den Uyl lagi.

“Caranya?”

“Kawin saja dengan orang Belanda…”

“Semudah itu..?”

“Mengapa tidak? Apalagi orang seperti U. Tampan, punya gaji besar..” Sabarudin tersenyum mendengar pujian Den Uyl. Hanya bercanda?

“Beginilah,” Den Uyl bicara dengan nada lebih serius. “Saya punya anak perempuan, umur 20 tahun. Ia belum bersuami. Kalau U berkenan, kawinlah dengan anakku.” Permintaan Den Uyl betul-betul mengejutkan. Sabarudin menduga Den Uyl punya masalah pribadi dan mengkhawatirkan masa depan anaknya.

“Apa pendapat U?” tanya Den Uyl. Setelah berdiam diri saja, Sabarudin menanggapi saran Den Uyl.

“Saya tidak berfikir untuk menjadi warganegara Belanda. Yang saya fikirkan adalah alas an, mengapa harus mendukung komunis untuk memperjuangkan nasib kaum buruh.”

“Apa ada yang lebih baik dari komunis dalam memperjuangkan nasib buruh? Lihatlah di Cina, Vietnam dan Korea Utara. Kaum buruh di sana hidup senang, serba cukup. Orang kaya dan miskin tidak terlalu jauh kesejahteraannya dibandingkan dengan negara-negara kapitalis.” Nada suara Den Uyl penuh semangat. Ia yakin Sabarudin akan termakan kata-katanya.

“Ada,” kata Sabarudin mantap. Wajah Den Uyl tampak heran memperhatikan penjelasan Sabarudin.

“Solusinya adalah Islam.” Sabarudin menjelaskan panjang lebar ajaran Islam menyangkut buruh atau tenaga kerja. Begitu berharganya seorang pekerja, sehingga Nabi Muhammad SAW memerintahkan  ummat Islam membayar  upah seorang pekerja sebelum keringatnya keluar.

“Apa ada contoh penerapan ajaran Islam mendatangkan kesejahteraan bagi penduduk sebuah negara?” Suara Den Uyl  bernada sinis. Mungkin juga ia sudah terbawa arus pandangan negatif orang barat bahwa Islam adalah teroris.

“Contohnya Saudi Arabia. Di sana tidak ada orang miskin. Banyak orang dari negara-negara lain bekerja di sana karena gaji seorang pekerja cukup tinggi.” Den Uyl mengangguk-angguk, tapi tidak kehabisan akal untuk menyerang.

“Sayangnya, kaum majikan di Saudi Arabia suka menyiksa buruh kecil, seperti pembantu rumahtangga..”

“Itu soal lain meneer. Pelanggaran terhadap peraturan terjadi di mana-mana. Di sini juga begitu..”

“Misalnya?”

“Masih ada masyarakat Belanda yang rasialis. Kemarin di Amsterdam ada unjukrasa yang mengusir pekerja-pekerja asing kembali ke negara masing-masing. Mereka membawa spanduk besar bertuliskan: we zijn Nederlander, buitenlander ga weg!” Den Uyl terdiam. Ia mengakui kebenaran ucapan Sabarudin. Walau pun minoritas, sikap anti pekerja asing merusak citra Belanda sebagai negara yang memperlakukan  semua orang sama, termasuk pendatang asing.

Keduanya diam tenggelam dalam fikiran masing-masing. Den Uyl kehilangan ide untuk mematahkan argumentasi Sabarudin. Tampaknya ia mulai tertarik , ingin tahu lebih banyak tentang Islam.

“Di negara U sendiri, bagaimana? Apa sistem Islam sudah terlaksana dengan baik?” Suara Den Uyl tidak lagi terdengar sinis.

“Belum..”

“Kok begitu? Negara U punya penduduk Islam terbesar di dunia, mengapa sistem Islam tidak jalan?” Sabarudin memahami keheranan Den Uyl. Ia menjelaskan keberadaan Indonesia  yang tidak menjadikan Islam sebagai dasar negara. Secara ringkas Sabarudin menjelaskan pembentukan UUD 45 yang dijiwai oleh Piagam Jakarta. Semula, Piagam Jakarta itu memuat ketentuan untuk melaksanakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Tapi kalimat-kalimat yang memuat ketentuan tersebut terpaksa dihapus demi persatuan bangsa yang menganut pelbagai agama.

“Jadi ummat Islam Indonesia sebenarnya sedang berjuang untuk terlaksananya seluruh ajaran Islam. Bukan hanya sebagian-sebagian seperti:Nikah, Talak, Rujuk dan Warisan.” Ada warna heran dari wajah Den Uyl mendengar penjelasan Sabarudin. Indonesia, negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia belum dapat melaksanakan ajaran Islam sepenuhnya. Hukum potong tangan bagi pencuri , hukum rajam bagi pezina dan hukum qisas bagi pembunuh tidak dapat dilaksanakan. Untuk kasus-kasus seperti itu berlaku Hukum Positif yang merupakan peninggalam Belanda.

Topik pembicaraan mereka cukup berat untuk tempat mereka berada. Di sebuah terminal bus, percakapan lazimnya yang ringan-ringan saja. Sabarudin berdiri menuju mesin penjual minuman di dekat situ. Ia mengambil dua cangkir kopi. Segelas diberikannya kepada Den Uyl. Mereka menghirup kopi dengan nikmat sambil melihat lalu lalang di terminal Bussum. Sore musim panas terasa cerah. Namun angin mulai terasa kencang karena musim gugur  menjelang tiba.

Lama juga Sabarudin tidak melihat Den Uyl di terminal Bussum. Tidak tahu apa yang terjadi atas diri Den Uyl. Asyik bercakap-cakap pelbagai masalah, mereka malah lupa mencatat alamat masing-masing. Bagi Sabarudin, Den Uyl adalah seorang cerdas walau mengaku tidak sampai duduk di perguruan tinggi. Ia sangat yakin dengan perjuangan kaum buruh melalui jalur komunisme. Entahlah setelah mendengar penjelasan Sabarudin tentang Islam. Duduk sendirian tanpa Den Uyl yang senang berdiskusi , Sabarudin mengingat-ingat kembali ucapan-ucapan  kenalannya itu. Salah satu saran Den Uyl yang mendatangkan pertanyaan adalah  agar Sabarudin kawin dengan anak gadisnya.  Bagaimana pun sebagai bujangan, Sabarudin tergelitik juga. Pada saat itulah muncul seorang gadis. Tiba-tiba saja ia sudah berada di depan Sabarudin. Kehadirannya mengingatkan Sabarudin kepada  mendiang Suzana, bintang film Indonesia yang gemar peran-peran horror.

“Maaf, apa meneer kenal seseorang bernama Sabarudin?”

“Saya sendiri.. Jij siapa?”

“Saya Merian, anak Den Uyl..” Darah Sabarudin tersirap. Ada sesuatu yang tidak beres. Apalagi melihat wajah Merian yang murung. Gadis itu duduk setelah bersalaman dengan Sabarudin.

“Ada apa? Ayahmu baik-baik saja, kan?” Nada cemas dalam suara Sabarudin.

“Tidak meneer. Papa sudah meninggal…”

“Meninggal? Kapan?”

“Baru seminggu.”

“Sakit apa?”

“Tidak sakit. Kecelakaan. Jatuh  ketika membetulkan atap…”

“Saya turut berduka. Semoga jij tabah menghadapinya.”

“Terima kasih meneer.” Sabarudin  kasihan melihat Merian. Ia adalah anak satu-satunya Den Uyl. Sekarang tentu ia tinggal sendirian di flat mereka di Hilversum.

“Papa sering cerita tentang pertemuannya dengan meneer. Kami juga merencanakan mengundang meneer bertamu ke rumah. Sayang, tidak kesampaian. Ajal sudah menjemput Papa…” Sabarudin terharu mendengarnya. Kini ia berfikir tentang masa depan Merian. Apa yang dapat dilakukannya?

“Saya baru saja menemukan surat Papa untuk meneer di laci meja. Untuk itulah saya datang ke  sini. Ini, bacalah…” Merian menyerahkan surat dari papanya itu. Sabarudin membacanya  dengan rasa tidak keruan.

Meneer Sabarudin,

Saya merasa sesuatu akan terjadi pada diri saya. Saya mengkhawatirkan anak saya, Merian. Ia tidak punya siapa-siapa lagi. Kalau kalian salaing cocok, kawinlah. Saya percaya Meneer orang baik. Tentu akan sepenuh hati melindungi Merian. Tinggallah di flat kami di Hilversum.

Salam,

Den Uyl

Sabarudin menatap Merian  dengan rasa kasihan. Gadis itu pun balas menatap. Tentu ia sudah tahu isi surat Papanya itu. Tidak dapat ditebak apa yang terlintas dalam fikiran Merian. Ia bukan orang Melayu yang biasanya cenderung mengikuti keinginan orang tua. Sabarudin juga menghadapi situasi sulit. Walau ada wasiat seperti itu, tidak mudah baginya mengawini Merian. Ia harus mampu  membuat Merian suka padanya. Perlu waktu untuk pendekatan dan meyakinkan bahwa memang cocok menjadi sepasang suami isteri.

Angin musim gugur bertiup kencang ketika keduanya berpisah untuk bertemu lagi di lain hari.

 

Selasa, 09 April 2013

Margaret Thatcher Telah Tiada



Mantan PM Inggeris, Margaret Thatcher meninggal dunia Senin, 7 April 2013 di London dalam usia 87 tahun. Ia menjabat PM  tahun 1979-1990, satu-satunya perempuan yang menduduki tampuk kekuasaan  pemerintah Inggeris. Ia dijuluki ‘wanita besi’ karena sikap politiknya yang tegas baik dalam mau pun luar negeri. Di dalam negerinya, Thatcher dinilai sebagai seorang pahlawan yang menyelamatkan negerinya dari kehancuran dan meletakkan dasar-dasar bagi kebangkitan ekonomi yang luar biasa. Dalam hubungan internasional, ia juga bersikap tegas khususnya menyangkut kepentingan Inggeris. Untuk melindungi 1000 orang Inggeris yang menghuni pulau Falkland, terletak dekat Argentina, tahun 1982 Thatcher mengirim kapal induk dan perlengkapan tempur lainnya. Argentina kalah dalam perang itu dan Inggeris membuktikan kepada dunia sebagai pemilik sah pulau kecil itu.

Sebagai seorang politisi dan negarawan kelas dunia, Thatcher mendatangkan inspirasi bagi wanita-wanita sedunia, bukan saja di bidang politik, tapi juga lainnya. Negara-negara yang mengikuti jejak Thatcher sebagai Kepala Pemerintahan antara lain: Pakistan, Bangladesh, Philipina dan Indonesia.

Julukan ‘wanita besi’ kemudian menjadi julukan bagi wanita-wanita lain yang bersikap tegas, sekali pun bukan di bidang politik. Seorang wanita yang menduduki jabatan eselon III di lingkungan PNS juga ikut dijuluki ‘wanita besi’ karena tegas dalam menegakkan peraturan di kantornya. Ini memang konyol dan bisa juga berarti cemoohan bagi wanita yang mendapat julukan tersebut.

Menyimak  perjalanan karier politik Thathcher, ia memulainya sejak usia 34 tahun. Mula-mula sebagai anggota parlemen  untuk wilayah Finchley, London Utara pada 1959-1992. Walau pun pendidikannya cuma sekretaris, Thatcher berhasil  menggantikan kedudukan Edward Heath sebagai pemimpin Partai Koservatif. Selanjutnya menang pemilu tiga kali berturut-turut yaitu pada 1979, 1983 dan 1987.

Para pemimpin dunia menghargai Thatcher sebagai pemimpin luar biasa dengan kepribadian yang mengesankan. Mantan pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, menyatakan, ‘Thatcher adalah  politisi hebat, berkepribadian cemerlang. Dia akan tetap dalam kenangan kami dan sejarah.”

‘Wanita besi’ itu telah tiada, namun tetap dalam kenangan terutama pemimpin-pemimpin dunia yang pernah bertemu dengannya. Ia juga menjadi inspirasi bagi wanita-wanita berkemauan keras untuk mencapai puncak di bidangnya masing-masing.

 

 

Yenny Wahid Masuk Partai Demokrat


 

Yenny, anak perempuan mantan presiden, alm. Abdurrahman Wahid, resmi masuk Partai Demokrat. Kehadirannya disambut dengan sukacita oleh para petinggi partai tersebut karena  masih memerlukan tokoh untuk menduduki jabatan tertentu yang masih kosong. Ia pun direncanakan untuk menduduki jabatan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat. Tokoh yang tidak berhasil membawa PKB Baru ikut dalam pemilu 2014 dengan begitu bisa berkiprah secara aktif dalam kegiatan politik, khususnya menghadapi pemilu 2014. Hanya yang kurang jelas nasib PKB Baru sendiri, apakah bubar jalan atau bergabung dengan partai tertentu.

Dengan masuknya Yenny Wahid ke dalam Partai Demokrat, tentunya harus mengikuti kebijakan politik yang beraliran nasional. Partai yang beraliran nasional tentulah tidak memperjuangkan politik Islam. Yang diperjuangkan adalah aspirasi masyarakat yang beragam. Sedangkan politik Islam  seyogyanya bersumber dari Qur’an dan Hadits. Dalam Qur’an misalnya diperintahkan untuk membayar zakat baik fitrah mau pun harta. Yang terjadi selama ini, baru ada kesadaran membayar zakat fitrah. Sedangkan zakat harta masih bersifat sukarela. Padahal seharusnya, zakat harta itu dikelola oleh  negara. Implementasinya harus melalui undang-undang. Inilah yang seharusnya diperjuangkan oleh wakil-wakil rakyat yang berasal dari partai-partai beraliran Islam.

Pertanyaannya, ketika mendirikan PKB Baru, apa hanya sekedar untuk menyaingi PKB pimpinan Muhaimin Iskandar, tanpa dilandasi keinginan memperjuangkan politik Islam? Selanjutnya, melalui Partai Demokrat, apa bisa Yenny Wahid memperjuangkan politik Islam?

Apa yang dilakukan Yenny Wahid  adalah untuk kepentingan pribadi, sehingga melupakan dulu kepentingan ummat Islam  dalam melaksanakan ‘amar ma’ruf nahi mungkar’.

Memang benar semua partai politik, apa juga pun alirannya, bertujuan memperjuangkan kepentingan rakyat untuk memperoleh kehidupan layak, cukup sandang, pangan dan papan.  Untuk mencapainya tentu menggunakan pendekatan berbeda. Partai-partai yang mengibarkan bendera Islam, tentulah menggunakan pendekatan yang sesuai dengan ajaran Islam. Kalau tidak, untuk apa menggunakan nama Islam.

Walau pun begitu, kita berharap kehadiran Yenny Wahid dalam Partai Demokrat bisa memberi warna Islam, sehingga menjadi partai yang turut menyerap aspirasi Islam.

Minggu, 07 April 2013

Heboh Eyang Subur



Dalam sepekan terakhir ini masyarakat disuguhi pemandangan perseteruan antara Eyang Subur dengan mantan murid-muridnya, terutama Adi Bing Slamet. Eyang Subur diwakili oleh muridnya Eyang Sigit menangkis segala tuduhan Adi Bing Slamet bahwa ia tidak menganut aliran sesat dan tidak pula mempermainkan perempuan. Kenyataan bahwa Eyang Subur punya 8 isteri, justru untuk mengangkat derajat perempuan. Dalam hubungan ini Eyang Subur bahkan pernah melamar seorang perempuan pekerja seks komersial menjadi isterinya, semata-mata untuk mengangkat derajat perempuan itu. Sedangkan mengenai tuduhan aliran sesat, Eyang Sigit membatahnya dengan menyatakan segala kegiatan Eyang Subur tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Salah seorang mantan muridnya mengisahkan, konon Eyang Subur pernah menyatakan bahwa Nabi Adam akan datang merangkak menemuinya jika ia tahu keberadaan dirinya yang mendapat keistimewaan dari Tuhan. Untuk memperlihatkan ketinggian derajatnya itu, Eyang Subur mewajibkan orang yang ingin meminta tolong kepadanya dengan cara ngesot. Tapi ini dibantah oleh Eyang Sigit dengan mengatakan bukan ‘ngesot’ melainkan jalan ‘membungkuk sambil menurunkan tangan kanan, layaknya orang yang berjalan di depan orang yang sedang duduk.

Siapa Eyang Subur? Menurut Jujuk dari ‘Sri Mulat’ Eyang Subur dulunya seorang tukang jahit, langganan perkumpulan pelawak itu. Suatu saat, Eyang Subur bertapa dan mengaku memperoleh kermampuan mengobati orang. Benar tidaknya kemampuan baru yang diperolehnya dari bertapa itu, kenyataannya memang banyak orang datang kepadanya untuk berobat dan mengatasi masalah pribadi, termasuk Adi Bing Slamet. Anehnya, mereka yang belakangan menentang Eyang Subur itu sempat ‘berguru’ lama termasuk Adi Bing Slamet yang mencapai 17 tahun.

Daripada terus menerus saling hujat antara pihak Eyang Subur dengan pihak Adi Bing Slamet, yang berwenang sebaiknya turun tangan menjernihkan suasana. Benar tidaknya tuduhan aliran sesat dan mempermainkan perempuan yang dialamatkan kepada Eyang Subur harus diklarifikasi di bawah sumpah. Apalagi Eyang Subur melalui pengacaranya sudah melapor kepada MUI tentang keberadaan dirinya sebagai ’guru spritual’ yang tidak bertentangan dengan akidah Islam.

Bagi masyarakat hendaknya dapat mengambil hikmah, daripada meminta tolong kepada ‘guru spritual’ lebih baik minta tolong langsung kepada Allah SWT antara lain  dengan cara mengerjakan shalat tahajjut secara teratur.

 

 

Selasa, 02 April 2013

KLB Tandingan Partai Demokrat




Salah seorang Ketua DPC Partai Demokrat menyatakan akan menyelenggarakan KLB Tandingan Partai Demokrat karena tidak puas hasil KLB partai tersebut di Bali akhir Maret  2013. KLB yang menetapkan SBY sebagai Ketum, dinilai menyalahi AD/ART yang mengharuskan  calon Ketum  lebih dari satu orang. Ini mengejutkan karena KLB di Bali itu memilih SBY secara ‘aklamasi’. Yang disebut ‘aklamasi’ adalah semua peserta kongres menyatakan sepakat tanpa ada satu pun yang menolak. Penggagas KLB Tandingan  baru menyatakan tidak setuju setelah KLB berakhir. Mengapa tidak menyatakannya selagi dalam proses KLB?
Bagaimana pun jelas sekarang ada kelompok kader Partai Demokrat yang tidak setuju SBY menjadi Ketum dan tidak setuju pula dengan cara-cara mengambil keputusan yang sudah distel di luar tempat KLB. Ini juga membantah keterangan Jero Wacik bahwa ‘kami rukun-rukun saja’.
Belum jelas kapan KLB Tandingan Partai Demokrat itu diselenggarakan dan berapa banyak kader partai itu akan mengambil bagian. Kalau KLB Tandingan itu didukung sejumlah kecil saja kader Partai Demokrat, tentu akan sia-sia belaka. Hal yang penting pula dimiliki oleh ‘Panitia KLB Tandingan’, adalah biaya. Untuk menyelenggarakan sebuah kongres, diperlukan biaya besar. Siapa penyandang dana?
Mari berandai-andai: KLB Tandingan jadi juga diselenggarakan. Akan muncul sebuah nama baru sebagai Ketum. Siapa yang akan diakui KPU sebagai yang berhak menandatangani daftar nama caleg? Rasa-rasanya KPU akan mengakui Ketum yang dihasilkan KLB Bali yaitu SBY. Lebih jauh mereka yang menggagas KLB Tandingan tentu akan diperlakukan sebagai ‘pembangkang’. Hukuman bagi pembangkang tentulah pemecatan. Lantas? Boleh jadi mendirikan partai baru dengan nama ‘Partai Demokrat Perjuangan’. Sebagai partai baru, sudah terlambat mendaftar menjadi peserta pemilu 2014.
Dus, tidak mudah menyelenggarakan KLB Tandingan. Harus dipertimbangkan kembali  untung ruginya. Perlu mengambil pelajaran dari partai-partai lain  yang membangkang dari induknya, mendirikan partai baru. Mereka terombangambing, kekurangan tenaga dan tidak memenuhi syarat mengikuti pemilu 2014. Walau pun begitu, para penggagas KLB Tandingan  tentu saja berhak mewujudkan niat mereka. Sedangkan hasilnya, kita lihat saja nanti.