Sabtu, 09 Juni 2018

Rekomendasi Kementerian Agama RI Untuk 200 Ustadz/Muballigh




Kementerian Agama RI pada 18 Mei lalu mengeluarkan rekomendasi untuk 200 ustadz/muballigh. Dengan begitu masyarakat, lembaga-lembaga, mesjid-mesjid yang memerlukan penceramah agama termasuk khatib shalat Jum'at, mudah memilihnya. 200 ustadz/muballigh itu sudah diteliti Kementerian Agama dari segala segi, terutama penguasaan materi-materi yang disampaikan kepada masyarakat luas.
Setuju dan tidak setuju muncul dikalangan masyarakat karena setiap ustadz/muballigh dianggap sudah mampu untuk berdakwah dan berkhutbah. Yang tidak setuju menilai, rekomendasi Kementerian Agama itu menunjukkan seolah-olah selama ini ada ustadz/muballigh yang kurang pas dalam menyampaikan dakwahnya. Yang setuju menilai, memudahkan masyarakat untuk mencari ustadz/muballigh tanpa mencari-cari ke sana ke mari. Diantara ustadz yang direkomendasikan minta namanya dicoret saja dengan alasan rekomendasi Kemenag itu dapat memecah para ustadz. Ada pula ustadz yang tidak direkomendasikan, malah menyatakan tidak memerlukannya karena ia sudah dipesan/dijadwal oleh pelbagai mesjid/lembaga sampai dengan tahun 2020.
Masalahnya memang terletak dalam upaya menampilkan ustadz yang benar-benar kompeten, sehingga tidak membingungkan masyarakat. Ada ustadz yang mengemukakan sesuatu yang selama ini belum terdengar, misalnya bahwa Nabi Adam diampuni Allah dosanya setelah mengucap dua kalimat syahadat yang menyebut nama Muhammad SAW. Ada pula ustadz yang menyatakan haram seseorang sedang shalat memikirkan sesuatu selain Allah, misalnya suara tamu yang memberi salam. Padahal Nabi Muhammad sendiri sengaja shalat pelan-pelan agar cucunya yang sedang berada dipunggungnya tidak terjatuh. Berarti memikirkan cucunya selagi shalat. Ada pula ustadz yang mengajak penonton bersalawat 10 kali agar keinginannya tercapai. “Yang ingin punya anak pegang perutnya...,' ujar sang ustadz.
Selama ini tidak ada aturan tentang syarat-syarat menjadi ustadz. Ini beda dengan dokter yang harus melalui disiplin ilmu tertentu. Seseorang yang mampu tampil menjelaskan tentang agama Islam, sudah dianggap ustadz. Idealnya, sebuah mesjid atau lembaga yang ingin menggunakan jasa seorang ustadz menyelidiki terlebih dulu asal usul pendidikannya. Pesantren? Perguruan Tinggi Islam? Dalam Negeri atau luar negeri?. Inilah sebenarnya tugas Kementerian Agama yaitu mengklarifikasi keberadaan seorang ustadz. Sehingga meniadakan tampilnya ustadz yang justru membingungkan masyarakat.
Terlepas dari setuju dan tidak setuju, upaya Kementerian Agama merekomendasikan nama-nama ustadz/muballigh perlu dilanjutkan. Terserah kepada masyarakat memilihnya. Sehingga nantinya, siapapun ustadznya, membawa kesejukan, pencerahan, membuat masyarakat makin mengerti Islam` Bukan ustadz yang sok punya pendapat sendiri, berbeda dengan jumhur ulama. Atau ustadz yang buka praktek pengobatan dari jauh, meminta 'mahar' jutaan rupiah yang ujung-ujungnya berurusan dengan polisi.

Minggu, 15 April 2018

Tiga Negara Barat Serang Suriah




AS-Inggeris-Perancis, Sabtu 14 April melakukan serangan udara di Suriah, menyasar objek-objek militer. Alasan serangan, menghukum pemerintah Suriah yang dituduh menggunakan senjata kimia ketika menyerang kaum pemberontak di Douma belum lama ini.. Pemerintah Suriah membantah tuduhan menggunakan senjata kimia itu.
Seharusnya, tuduhan menggunakan senjata kimia dibuktikan kebenarannya oleh team pencari fakta tunjukan PBB. Jika benar, barulah PBB bertindak. Bukan negara-negara yang merasa kepentingannya di Suriah terancam. Tindakan AS dan konco-konconya menyerang sebuah negara berdaulat dengan tuduhan yang mengada-ada, kembali terulang setelah berhasil menggempur Irak secara keroyokan yang berujung tumbangnya pemerintahan Saddam Husein. Benar ucapan Presiden Rusia Putin bahwa tindakan AS dan konco-konconya akan membuat dunia kacau.
Serangan negara-negara barat atas Suriah harus dikecam oleh negara-negara anggota PBB. Organisasi dunia itu harus menentukan sikap. Begitu juga Liga Arab, OKI dan Nonblok harus menentukan sikap. Tindakan militer sebuah atau beberapa negara terhadap sebuah negara berdaulat seperti Suriah tidak bisa dibenarkan.Wibawa PBB harus ditegakkan. PBB harus tegas menyatakan bahwa tindakan itu melanggar piagam PBB.Kalau badan dunia itu diam saja dan tidak berbuat apa-apa atas tindakan negara-negara anggotanya, lebih baik bubar saja. Begitu juga, Liga Arab, OKI dan Nonblok. Walaupun tidak mungkin menghukum secara militer, setidak-tidaknya suara mereka merupakan kekuatan moral.
Sengketa di sebuah negara bisa saja terjadi. Mestinya yang sedang bertikai tidak memberi peluang negara-lain campur tangan. Kalau hanya meminta bantuan senjata, masih bisa dipahami. Tapi membiarkan negara-negara lain terlibat langsung seperti yang dilakukan AS dan konco-konconya akan merugikan pihak-pihak bertikai. Jika kaum pemberontak Suriah menang, mereka akan didikte oleh AS dan konco-konconya. Sebaliknya jika Pemerintah Suriah yang menang, mau tidak mau harus mengekor keinginan Rusia dan Iran.
Mengatasi keadaan ini tiap negara harus punya prinsip untuk tidak terikat kepada bantuan negara lain.Pertikaian di dalam negeri harus dapat diselesaikan sendiri seperti yang dilakukan Indonesia dimasa silam.



Sabtu, 14 April 2018

Permintaan Maaf Sukmawati Sukarno Puteri




Puisi Sukmawati Sukarno Puteri yang dinilai sementara pihak sebagai menista Islam, seharusnya sudah selesai saat penulisnya menjelaskan makna puisi tersebut. Sukmawati menyatakan, ia tidak bermaksud menista Islam melalui puisi tersebut. Kepada ummat Islam yang tersinggung karena puisi itu, Sukmawati meminta maaf. Majelis Ulama Indonesia pun menganjurkan ummat Islam memaafkan Sukmawati..Namun masih ada pihak yang ingin meneruskan proses hukum kasus tersebut. Pihak tersebut tentu tetap menilai Sukmawati bersalah, telah menista Islam. Itu adalah hak mereka. Tinggal lagi polisi menyelidiki dengan meminta keterangan pakar puisi semisal Taufik Ismail, apa karya Sukmawati itu memang benar-benar menista Islam.
Menilai karya sastera memang tidak mudah. Pengarang dan penulisnyalah yang paling tahu maksud karyanya itu. Karya sastera seperti cerpen dan novel, lebih mudah menilainya. 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck' karya Hamka jelas mengangkat kerasnya adat Minang ditahun 30an dan sikap materialistis orang Minang zaman itu. Tapi kalau sajak atau puisi lebih rumit lagi. Tidak ada penilaian yang standar. Antara pengarang dan pembacanya mungkin berbeda penilaian.Ketika penyair Persia Omar Khayam menulis:
kekasihku,
yang melayani aku diantara tamu-tamu di padang rumput
ingatlah,
bila kelak engkau kebetulan lalu
membawa gembira ke makamku
siramlah tanah yang telah hijau berlumut itu
dengan anggur gelas bersentuh

Siapa kekasih yang dimaksud Omar Khayam itu? Siapa pula tamu-tamu di Padang Rumput? Mengapa pula tanah pemakaman disiram dengan anggur gelas bersentuh? Orang awam yang buta puisi ada yang menilai puisi Omar Khayam itu sebagai sindiran atas ketidaksetiaan seorang kekasih. Sedangkan bagi yang benar-benar hidup matinya bersama puisi mungkin akan punya penilaian lain.
Yang perlu diingat, setiap orang bebas menulis puisi. Tapi sedikit sekali yang benar-benar diakui sebagai penyair. Sukamawati memang selama ini dikenal sebagai pegiat seni dan budaya. Tapi ia bukan seorang penyair sekelas Taufik Ismail. Karena itu himbauan Majelis Ulama Indonesia untuk memaafkan Sumawati, patut dihargai..Artinya menghentikan polemik tentang kasus puisi puteri sang proklamator tersebut.


Minggu, 18 Februari 2018

Juwita Dilarang Memakai Nama Bahar



Sebenarnya ini urusan sebuah keluarga, namun viral di media sehingga masyarakat pun ikut mengomentarinya. Juwita, anak perempuan pedangdut Anisa Bahar, dilarang memakai nama Bahar di belakang namanya. Pelarangan itu setelah melalui rapat keluarga yang digelar Anisa. Tidak main-main kalau Juwita masih saja memakai nama Bahar di belakang namanya, pihak keluarga akan memperkarakannya melalui jalur hukum.
Ada pun penyebabnya, Anisa kecewa kepada calon suami Juwita yang dinilai berprilaku buruk. Tidak jelas pula seburuk apa kelakuan  Deddy, teman pria Juwita itu. Ketidaknymanan Anisa itu sampai-sampai mengembalikan uang 800 ribu rupiah kepada Deddy, harga kue.
Pertanyaannya, siapa sebetulnya Bahar? Siapa pula Juwita? Kalau Bahar adalah suami atau ayah Anisa sedangkan Juwita adalah anak kandung Anisa, syah-syah saja bagi Juwita memakai nama ayah atau kakek di belakang namanya. Seandainya pula Juwita bukan anak kandung, sedangkan nama Bahar pemberian keluarga, biasanya nama pemberian itu lekat sampai orang yang diberi tutup usia. Ingat, Ibu Tien Suharto pernah mendapat nama ‘Siti Fatimah’ dari Raja Arab Saudi. Pemberian nama itu tidak pernah dicabut. Begitu juga petinju Casius Clay mendapat nama Mohammad Ali yang tetap dipakainya sampai tutup usia.

Walau pun tampak sederhana, perlu juga pakar hukum angkat bicara

Rabu, 14 Februari 2018

Upik Tak Tun Tung Yang Mujur


Dalam acara Konser Dangdut TV Indosiar pada Desember 2017 tiba-tiba muncul bintang tamu bernama Upik, berasal dari Sumatera Barat. Ia memperlihatkan kebolehannya menghibur penonton dengan membuat gerak gerik jenaka sambil menyanyikan lagu ‘Madu dan Racun’ yang dipelesetkan ditambah bunyi mulut menirukan talempong [gamelan Minang]: tak tun tung, tak tun tung, tak tun tung. Lafal aslinya adalah: tak ton tong.
Konon sebelumnya Upik yang berbadan mungil itu viral di Thailand, entah dalam kegiatan apa. Tentunya kemampuannya membuat gerakan-gerakan jenaka itu.
Dari bintang tamu, si Upik kemudian memperkuat team host Indosiar, khususnya dalam kegiatan acara Konser Dangdut. Upik bahkan mampu bernyanyi berduet dengan Iyet Bustami menyanyikan lagu ‘Malereng’. Untuk pertama kalinya pula lagu Minang muncul dalam pentas dangdut Indosiar.
Ada dugaan, kehadiran Upik mendampingi host hanya sementara mengingat Rina Nose sedang absen. Kenyataannya, Upik masih aktif di pentas dangdut Indosiar. Kita menyambut kebijakan Indosiar terhadap Upik dengan memberikan lapangan kerja baru kepadanya. Sebelumnya Upik adalah pegawai sebuah Puskesmas di Sumatera Barat. Jika Upik memang lebih menyenangi pekerjaannya yang baru itu, mestinya Upik minta berhenti kepada tempat bekerjanya yang lama.

Satu lagi kebenaran firman Allah SWT, bahwa Allah melapangkan rezeki oang yang dikehendakiNya. Sebaliknya, Allah juga menyempitkan rezeki orang yang dikehendakiNya. Dalam hal ini Upik sedang dilapangkan rezekinya oleh Allah, karena bekerja di TV tentu penghasilannya lebih baik daripada tempat bekerja yang lama. Upik sungguh mujur dan patut bersyukur kepada Allah SWT.

Rabu, 03 Januari 2018

Ancaman Presiden AS Kepada Negara-negara Pendukung Resolusi MU PBB Tentang Yerusalem



Sekalipun Presiden AS Donald Trump mengancam menjelang pemungutan suara di sidang darurat MU PBB, namun sidang yang diselenggarakan tanggal 21 Desember 2017, menghasilkan: 128 menentang, 9 mendukung AS dan 35 abstain. Nah apa Trump benar-benar menarik bantuan AS kepada sebagian besar negara-negara pendukung resolusi sidang darurat MU PBB? Belum ada tindak lanjut ancaman Trump itu, termasuk kepada Indonesia yang menjalin kerjasama ekonomi dan perdagangan dengan AS.
Sikap negara-negara pendukung resolusi sidang darurat MU PBB tentang status Yerusalem itu patut dipuji karena mereka berani mengambil keputusan sekalipun sudah diancam. Yang perlu dipersiapkan oleh negara-negara penentang keputusan Trump tentang Yerusalem adalah langkah berikutnya jika AS benar-benar menarik bantuannya. Mereka harus meningkatkan ketahanan  masing-masing diberbagai bidang, sehingga tidak tergantung kepada AS.
Resolusi sidang darurat MU PBB tentang status Yerusalem tidak menyebutkan sanksi bagi AS jika benar-benar melaksanakan keinginannya memindahkan kedubesnya dari Tel Aviv ke Yerusalem. Bahkan resolusi-resolusi DK PBB tentang Pelestina yang terus menerus dilanggar oleh Israel tidak menyebutkan sanksi atas pelanggaran. Inilah masalahnya. PBB baik melalui DK maupun MU bisa saja mengeluarkan berbagai resolusi. Tapi menjadi kehilangan makna ketika dilanggar oleh pihak-pihak terkait. PBB menjadi tidak berdaya mengatasi pelbagai konflik dunia. Itulah mengapa muncul gagasan untuk memperbaharui PBB, sekalian memindahkan markasnya dari tanah AS. Usaha yang cukup gencar dilakukan dalam masa jabatan Sekjen PBB Koffie Annan, sampai sekarang belum membuahkan hasil. Pada akhirnya memang tergantung kepada negara-negara yang bersengketa untuk mampu mempertahankan haknya masing-masing. Akan halnya Palestina, ditunggu kebangkitan negara-negara Arab yang kalah perang melawan Israel tahun 1967

Bagaimanapun keputusan sidang darurat MU PBB tentang Yerusalem merupakan pukulan bagi AS. Mestinya AS insyaf bahwa dunia tidak tunduk kepada keinginan AS yang mengabaikan aspirasi bangsa-bngsa lain.

Kamis, 14 Desember 2017

Hasil-hasil KTT OKI Di Istambul



KTT negara-negara Organisasi Kerjasama Islam –OKI- tanggal 13 Desember 2017 di Istambul, Turki, menyepakati 23 butir pernyataan yang isinya menyatakan menentang keputusan Presiden AS Trump mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel dan merencanakan pemindahan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Butir (1) pernyataan OKI itu, menolak keputusan unilateral dan illegal Presiden AS yang mendeklerasikan Yerusalem ibukota bagi Israel. Tindakan Presiden Trump itu dinilai sengaja melemahkan semua upaya untuk mencapai perdamaian dan mendukung kepentingan ekstrimisme dan terorisme selain mengancam perdamaian dan stabilitas internasional. Butir (2) menegaskan kembali dukungan terhadap rakyat Palestina untuk mencapai hak-hak mereka secara permanen termasuk hak menentukan nasib sendiri dan mewujudkan negara Palestina merdeka dan berdaulat di perbatasan 4 Juni 1967. Masih dalam butir (2), OKI berkomitmen untuk membendung segala bentuk serangan terhadap kota suci Yerusalem dan kota-kota lainnya. Yang penting juga untuk dicatat adalah butir (8) yang menyatakan Yerusalem Timur sebagai Ibukota Palestina dan meminta negara-negara internasional mengakui kedaulatan Palestina dan Yerusalem Timur ibukotanya. Pernyataan bernada ancaman terdapat dalam butir (9) bahwa OKI akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengakhiri pelanggaran Israel dan pihak manapun yang mendukung penjajahan terhadap Palestina serta kebijakan kolonial dan rasis. Selanjutnya OKI mengutuk sikap keberpihakan Kongres AS yang tidak dapat dibenarkan serta kebijakan dan praktek AS yang mendukung kolonialisme dan rasisme Israel.

Hasil-hasil KTT OKI 13 Desember 2017 di Istambul cukup keras dialamatkan kepada AS dan Israel. Namun tetap saja terkendala, mengingat Israel tidak mempan diresolusi dan AS sudah terlanjur menyepelekan negara-negara lain yang berseberangan dengannya. Satu-satunya cara yang belum dicoba adalah menekan Irael secara militer. Kesombongan Israel terjadi setelah mengalahkan tiga negara Arab: Mesir, Suriah dan Yordania dalam perang tahun 1967. Logikanya, karena Israel menduduki wilayah-wilayah Palestina melalui perang, maka wilayah-wilayah itu harus diambil kembali dengan cara perang pula. Apa ada negara-negara Arab yang berani?