Sabtu, 26 September 2015

Sumbangan RRI Terhadap Kesusasteraan Indonesia



Radio Republik Indonesia -RRI- dalam hal ini Siaran Luar Negeri -SLN-, sejak lima tahun lalu menyelenggarakan siaran sastera Indonesia yaitu cerita pendek -cerpen-, merupakan karya orang-orang Indonesia yang berada di berbagai belahan dunia. Siaran yang digagas oleh Kabul Budiono ini, dulu tidak pernah terpikirkan, mengingat SLN menggunakan Gelombang Pendek -SW- sehingga kurang pas untuk menyelenggarakan acara seperti cerpen. Sejak digunakannya streaming line, pendengar-pendengar Indonesia di luar negeri dapat dengan mudah menangkap SLN. Siaran sekali seminggu, ternyata banyak peminatnya dan karya-karya cerpen berdatangan. Setelah penyaringan yang ketat dengan bantuan novelis Pipiet Senja, terpilihlah sejumlah cerpen untuk dibukukan. Sampai dengan Oktober 2014, sudah berhasil diterbitkan 3 buah buku kumpulan cerpen yang tiap bukunya berisi 20 cerpen.
Ini prestasi yang membanggakan karena tidak mudah menghimpun karya-karya berkualitas yang dibuat oleh orang-orang Indonesia diperantauan. Ternyata mereka tidak semata 'cari makan' di luar negeri, tapi juga punya bakat terpendam yaitu sebagai cerpenis.
Kegiatan membukukan karya-karya cerpen oleh SLN mengingatkan kita kepada Siaran Indonesia Radio Nederland, -SIRN- yang juga melakukan hal serupa. Bedanya, SIRN menjaring cerpenis dari Indonesia saja, tidak mengkhususkan diri pada karya-karya orang-orang Indonesia di perantauan.
Pertanyaannya, setelah SIRN lenyap dari udara, siapa lagi yang menyalurkan karya-karya cerpen dalam negeri?
Sampai dengan akhir tahun 70an, RRI Jakarta menyelenggarakan sejumlah acara sastera seperti: Panorama Sastera yang memperbincangkan karya sastera dunia, diasuh oleh Djamalul Abidin Ass dan Nizmah Zaglulsah. Pancaran Sastera memperbincangkan karya-karya puisi kiriman pendengar terbaru. Juga ada cerpen sekali seminggu mengetengahkan karya-karya pendengar RRI. Kedua acara yang terakhir ini diasuh oleh AP Burhan dan Syarifudin Asra. Pada akhir 70an itu, semua acara sastera tersebut 'bubar jalan' seiring dengan semakin mengecilnya honorarium siaran. Untuk karya-karya sastera yang datang dari pendengar, waktu itu RRI memberikan honorarium sesuai dengan standar yang diberikan media cetak seperti Kompas.

Yang perlu dicatat adalah RRI juga pernah melahirkan sastrawan-sastrawan kaliber nasional. Mereka adalah: Djamalul Abidin Ass, Sori Siregar dan Darius Umari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar