Minggu, 14 Juli 2013

Sekilas Riwayat PTQ RRI-TVRI




Pekan Tilawatil Qur’an RRI-TVRI tahun ini akan diselenggarakan pada 16 Juli 2013, kali ini bertempat di Ternate. Generasi muda RRI sekarang sedikit sekali yang mengetahui riwayat diselenggarakannya kegiatan lomba baca  Al Qur’an –tersebut. Perlu juga diketahui, mengapa RRI menyelenggarakan kegiatan tersebut, padahal sudah ada kegiatan MTQ yang sudah melembaga.
PTQ RRI ada kaitannya dengan MTQ Nasional. Pada tahun 1968 diselenggarakan  MTQ Nasional ke I di Makassar. Diselenggarakan dalam bulan puasa, untuk menyemarakkan bulan suci itu sambil menjaring bakat-bakat baru di bidang seni baca Al Qur’an. Diselenggarakan di lapangan Matoangin, kegiatan dimulai dengan shalat Isya dan Tarawih berjamaah. Dikaitkannya MTQ Nasional dengan bulan puasaitu, murni gagasan salah seorang Ketua Panitia yaitu M. Sani, waktu itu menjabat Kepala Dinas Siaran Dalam Negeri RRI. Tahun berikutnya, panitia yang kebanyakan petinggi-petinggi Departemen Agama, memutuskan  MTQ tidak lagi dalam bulan puasa, melainkan dikaitkan dengan MTQ Internasional di Kuala Lumpur, Malaysia..M.Sani kecewa, lantas memutuskan menyelenggarakan sendiri lomba baca Al Qur’an diberi nama Pekan Tilawatil Qur’an. Peserta-pesertanya bebas, bukan mereka yang pernah jadi juara, tapi tidak menolak mereka yang pernah juara di kabupaten atau provinsi.Lewat PTQ RRI  itu bermunculan wajah-wajah baru di bidang seni baca Al Qur’an. Pembaca Terbaik I (istilah khas yang menyalahi kaidah bahasa Indonesia pengganti kata ‘juara’} masing-masing Nanang Kosim dan Neneng Hasanah. Atas kesepakatan dengan pihak Departemen Agama yang menjadi Panitia Hari-hari Besar Islam, kedua peserta terbaik dari PTQ RRI itu ditampilkan dalam Peringatan Nuzul Qur’an di Istana Negara. Kesepakatan itu masih dipeganag sampai sekarang.
Tahun 1970, TVRI ikut bergabung khusus menyiarkan final PTQ bertempat di Mesjid Istiqlal Jakarta. Bergabungnya TVRI itu erat kaitannya dengan keberadaan M. Sani sebagai Kepala TVRI Jakarta. Ia meminta yang menjadi penyiar untuk siaran gabungan itu adalah dari RRI. Djasli Djosan yang menjadi produser, meminta penyiar SLN Idrus untuk mengemban tugas itu. Dan, itulah pertama kalinya Idrus muncul di TVRI yang berlanjut sebagai penyiar berita.
Selain M. Sani, tidak boleh dilupakan peranan Djamal Syarif yang waktu itu menjabat Kepala Siaran Agama dan Budaya RRI Jakarta. Ia punya banyak gagasan untuk keberlangsungan PTQ RRI-TVRI, termasuk kerjasama dengan pihak DKI, yaitu Drs. H.M. Fatwa (sekarang anggota DPD). Dua tokoh RRI ini, M.Sani dan Djamal Syarif sudah tiada, semoga Allah SWT melapangkan tempat mereka di alam sana. Amin!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar